Malam ini ada acara keluar, tetapi hasrat hati ku tahan! kukubur dalam-dalam keinginan dan kewajiban itu walaupun sebenarnya berlawanan. Berat memang! Tetapi alangkah semua itu lebih baik? dari pada aku keluar dan mendengarkan celoteh orang-orang tolol yang tidak ada manfaatnya bagiku dan membuat diriku merasa tersudut dan semakin tersudut?
lebih baik aku disini sendiri dan berusaha menikmati hari seperti biasanya!
sepanjang sore hari – hingga malam hari! inilah yang ku lakukan dan kurasakan : Duduk, terdiam, merenung, memikirkan, berimaginasi, dan berhayal, gumpalan asap rokok tampak tebal melingkupi ruangan kamar, akhir kata : AKU BOSAN dan AKU TAK TAHAN.
Banjarnegara 24-01-2009.
Saturday Night.
SAYA SAKIT JIWA!
Tiba-tiba seketika menyeruak Absentmindedness secara luar biasa,
di dalam benak saya ada dua pribadi yang berbeda, terkadang saya menjadi seseorang yang baik dan respect terhadap keadaan sesama di sekitar, akan tetapi sebaliknya jika saya berada di dalam peribadi lain, secara mendadak saya bisa menjadi seorang yang Lowminded.
Disamping itu saya juga mempunyai kecenderungan Schmaltz, dengan seketika saya bisa menjadi seseorang yang Apathetic dan Antipathy, sesaat sesudahnya saya berubah menjadi seseorang yang memiliki rasa Emphati yang tinggi.
Terjadi kebingungan ketika semua yang saya derita menjadi Notability di sekitar saya, saya tidak tau apa yang sebenarnya terjadi?
Sekarang saya lebih menyukai ketenangan dalam kesendirian.
dalam pengasingan, dalam Imaginasi dimana secara otomatis tersusun gambaran yang belum kongrit tentang Morbid Vision, dan didalam kekosongan saya merasakan kedamaian. Lebih aneh lagi! Mengapa saya bisa sangat menikmatinya? Sekarang saya sudah tercandu oleh kebiasaan itu! ITULAH KEBAHAGIAAN BAGI SAYA, karena saya bisa merasakannya.
arrchhhh….
saya tidak perduli! Akhir kata saya menyadari bahwa saat ini yang saya derita adalah penyakit jiwa yang cenderung membuat seseorang mengasingkan diri (Schizophrenia).
This Path
Against Mechanicalness
Against Involutary Actions
Against Unnecesary talks
Against Imagination
Against Expression
Against daydreaming
Against Sleep
(a step along the line of Being)
Joy Of Life
sesuatu yang membuat saya bahagia biasanya tidak membahagiakan orang lain di sekitar saya, dan begitu pula sebaliknya. hal ini menjadi beban sekaligus tantangan tersendiri buat diri saya, dan pada akhirnya, ketika saya memutuskan untuk tetap mempertahankan diri saya yang berbeda itu, itulah realitas sejati saya. bahkan seandainya kebahagiaan itu hanyalah masalah relativisme dan pendapat, saya akan tetap mempertahankan kebahagiaan saya, walaupun hanya saya yang memahaminya.
saya pernah mencoba menjadi orang lain, dengan topeng yang begitu flexible, namun ternyata “menjadi” itu juga berarti membunuh diri saya sendiri. mungkin terdengar kontradiktif, tapi memang demikianlah; disatu sisi saya merasa sudah “mati”, namun disisi lainnya saya harus mempertahankan “hidup” saya. dan itu berati saya harus hidup dalam kematian ini.
mohon maaf karena saya sedang tidak menyampaikan suatu apapun disini. barangkali ini adalah karena efek obat yang barusan saya minum dapat dari dokter kemarin sore, namanya clobazam.
barangkali cukup sekian, karena obatnya sudah habis efeknya juga barangnya maka saya tidak bisa menulis lagi…
semoga cepat sembuh
dari banyak makhluk di dalam diri saya (bukan kuman dan cacing yang saya maksudkan), hanya ada beberapa yang benar-benar ber”mutu”, dapat diandalkan dan very-very smart. makhluk-makhluk ini, yang sering saya sebut sebagai fragmented personality, dalam konteks non skizo, kadang melakukan hal-hal ajaib yang diluar kemampuan pikiran, emosi, insting dan gerakan saya. salah satu dari mereka mampu melihat masa depan, sedangkan yang lainnya selalu bergayutan pada memori dan menyalahkan makhluk lainnya mengapa “dulu harus terjadi”. makhluk yang lainnya lagi lebih tertarik pada superioritas (kalo bukan stuporioritas), dan berharap suatu saat perang dunia ketiga terjadi dan dia dapat oportunity to become a hero. makhluk yang lainnya lagi menganggap bahwa penderitaan adalah wajib hukumnya bagi seorang manusia yang peduli terhadap lingkungan, well itu hanya beberapa.
sebagai pemilik rumah, saya sering merasa dipinggirkan oleh makhluk-makhluk penghuni rumah saya ini. suara saya begitu lemah, lirih dan nyaris sekarat. sedangkan suara mereka begitu nyaring hingga memekakkan kesadaran saya, yang lalu lebih memilih untuk duduk di pojokan rumah, kadang di basement, menunggu mereka tidur, agar saya dapat berjalan ke dapur untuk makan. sayangnya mereka tak pernah tidur.
sebenarnya, saya pernah menghabisi mereka dalam sekali pukulan. tapi itu cerita lama yang sudah basi. sekarang mereka telah kembali, dengan membawa amunisi yang berlimpah ruah, kemudian mengepung saya dengan amat rapat.
namun hari ini saya menyatakan perang telah dimulai kembali. dengan senjata seadanya, saya akan maju bertempur. akan saya dapatkan kemerdekaan saya kembali. semoga lekas sembuh.
Blue Horizon
bagaimana saya memandang dunia ini, bagaimana anda memandang kehidupan ini, adalah sesuatu yang sebenarnya sama. bagaikan kita melihat langit dari jendela rumah kita masing-masing. walaupun jendela kita masing-masing berbeda, namun langit yang disana adalah langit yang satu itu juga. kaca jendela saya mungkin merah, milik anda berwarna hijau, kita tak punya hak untuk mengatakan langit disana berwarna merah ataupun hijau. kehidupan ini adalah demikian adanya, bukan seharusnya menurut kita. penderitaan akan muncul saat kita mengklaim bahwa kehidupan ini “seharusnya” begini. bahwa tuhan “seharusnya” begitu terhadap kita.
Kehidupan menyatakan keberadaannya melalui kita, dan kita menyatakan kehidupan ini dengan menjalaninya. tanpa keluhan. tanpa mempertanyakan. bahagia dan gembira.
(Cohort Septimum V)
Barangkali
barangkali
bila kuacungkan tinjuku ke langit
dadaku akan terasa
lebih ringan, tanpa beban
tapi
aku hanyalah manusia
biasa, bahkan setengah gila
dan masih takut sambaran petir
seperti yang dilihat musa
di atas sinai
(Chaos AD)
antara teman dan teman
kita sering berpikir bahwa seseorang yang memiliki banyak teman adalah orang yang beruntung. Namun bagi saya, pikiran seperti ini amat keliru; sebenarnya apa fungsi seorang teman ? lebih spesifik lagi; untuk apa sebenarnya kita berteman ? sebenarnya, kita mencari teman, karena begitulah yang dianggap normal oleh manusia kebanyakan. Namun sekali lagi; apakah standar normal mereka sudah benar-benar valid ? lalu, apa standar validitas kenormalan manusia ?
sebagai contoh; kita sering merasa kasihan terhadap orang gila. Mereka makan makanan sampah, tidur di jalan aspal yang panas di siang bolong. Namun kita tidak pernah menyadari bahwa mereka lebih bahagia dari kita yang dianggap normal. Buktinya ? lihat, mereka masih bisa tertawa sepanjang hari, tersenyum sepanjang hari, sedangkan kita, kadang dari pagi hingga malam tersenyum sekali pun tidak. Siapa yang sebenarnya lebih ‘normal’ ? kita ataukan mereka ? bukankah mereka cuma kalah dalam jumlah saja ? apabila 90% penghuni dunia seperti mereka, maka kitalah yang lalu dinamakan orang gila oleh mereka.
Bila kita renungkan lebih lanjut, mereka, orang-orang gila itu, bisa bahagia karena tidak ada seseorangpun yang mau mendekati mereka. Dengan kata lain, mereka tidak punya teman. Itulah kunci yang paling mendekati valid dari kebahagiaan mereka. Mengapa para pertapa nenek moyang kita suka mengasingkan diri di hutan, gua, gunung dan sebagainya ? karena mereka memahami prinsip tersebut
Saya tidak menganjurkan supaya orang lalu ingin jadi gila agar hidup bahagia. Semua ini hanyalah gambaran nyata saja. Semacam fakta yang kita lihat setiap hari, dan kita masih bertanya-tanya; mengapa kita sulit bahagia ?
Saya punya teman seorang gila. Kadang ia lebih mengerti saya dari pada mereka yang menganggap dirinya normal. Bila kami bertemu, ia tidak pernah menyapa. Tidak pernah berbasa-basi. Tidak pernah menanyakan masalah saya. Dia hanya tersenyum saja. Hal itulah yang benar-benar membahagiakan diri saya.
By [Morbid Mind]
(dulu memang saya pernah dianggap sudah gila)
mindmaker
dari manakah datangnya inspirasi seseorang ? tapi sebentar, apakah inspirasi itu sesungguhnya ? apakah inspirasi sama dengan ide cemerlang yang datang mendadak saat kita sedang leyeh-leyeh sambil makan cemilan? ataukah ia datang dari sebuah proses pembelajaran hidup yang cukup lama ?
menurut saya; inspirasi is nothing ! just a bullshit talk echoing from corner to corner..
mengapa demikian ? karena apa yang selama ini kita anggap sebagai inspirasi sebenarnya bukanlah hasil kerja kita. mengapa ? anggaplah saya sedang menulis puisi yang seolah datang dari inspirasi, namun sesungguhnya, yang saya kerjakan hanyalah sekedar menata kata-kata dalam susunan tertentu yang mengekspresikan ide saya dan yang menurut saya maupun orang di sekitar saya bernilai ‘artistik’, atau ‘nyeni’. hanya itu! menata kata adalah pekerjaan harian manusia, baik dipergunakan secara persuasif, defensif maupun agresif, namun pada intinya sama: menata ide dalam kata-kata. namun bila saya renungkan lebih lanjut, sebenarnya dorongan ide itu bukanlah dari saya. saya hanyalah robot yang sekedar bekerja tanpa sadar menata kata-kata karena tiba-tiba pikiran atau perasaan tertentu menyuruh saya melakukannya. pikiran atau perasaan itu muncul karena reaksi terhadap suatu penyebab, yang tentunya berasal dari luar diri saya. dan karena itu saya tak ubahnya boneka bertali yang digerakkan entah oleh siapa untuk menulis sebuah puisi; dan saya menamakannya: inspirasi.
apakah terlalu fatalis ?
tidak juga
sepanjang hidup saya, selalu ada penyebab yang menggerakkan diri ini dari luar. seulas senyum manis dari si gadis desa sebelah akan menggerakkan mesin pikiran dan emosi dalam robot bernama manusia ini untuk mengolah data sepanjang hari. pikiran akan larut dalam upaya memikirkan taktik untuk menggaetnya, sedangkan emosi akan tumbuh perlahan-lahan sebagai ketertarikan yang dinamakan cinta. namun itu bukanlah ‘saya’ yang sesungguhnya. itu adalah kerja dari berbagai sistim insting, emosi gerakan dan pikiran dalam bekerja memproses input senyuman manis si gadis desa sebelah. saya yang sesungguhnya tidak sadar mengapa itu bisa terjadi. coba tanyakanlah; mengapa saya berpikir terus tentang si gadis ? mengapa sesuatu yang selama ini saya sebut sebagai diri saya tidak mampu untuk mengendalikan kecenderungan itu ? mengapa saya membiarkan diri saya dikendalikan oleh seulas senyuman manis ? apakah senyum itu adalah inspirasi bagi anda juga ? im sorry, for me its just a bullshit talking that echoing from corner to corner…
by [Morbid Mind]
[penganut sinisme akut]
Why I am Being Disconnected
Some people ask me why I am choosing disconnected as my name. Its been a long story, but in fact, I was really disconnected from this (or your) “real world”. I live in a different state than something wrong that you call that “reality”. My mind was not set up to living here normally “to face reality”.
I am no one
I am emptiness
I am nothing
You may say I am an insane person, but you’re right; I have no sanity in my mind. But, inside myself, I am happy. My happiness is the same with something ridiculous that you call it “sadness”.
Yes, I am already dead from this world, I am disconnected from this world of yours.
I am Being disconnected :
It means that there is an empty space between me and you,
It means that we were clearly separated.
Am I an nihilist ?
You know that better than me!